Beranda > Motivasi dan Inspirasi > Tuhan Agama ASU

Tuhan Agama ASU

Sahabat…
Tulisan dalam artikel ini bukanlah dalam rangka menyinggung ataupun menyindir seseorang atau siapapun saja. Tulisan ini hanya sekedar menyoroti sebuah fenomena sosial yang saat ini sedang merebak mewabah dan menjangkiti hampir setiap orang. Dan Sebagai bahan renungan kita bersama, terutama sebagai nasehat bagi diri saya sendiri agar lebih tepat dalam memandang uang..

ASU hanyalah sekedar istilah yang merupakan singkatan dari Aku Suka Uang atau Aku Sayang Uang, yang menumbuhkan perilaku Aku rela melakukan Segalanya demi Uang. Yang merupakan realisasi dari pemujaan dan pemberhalaan terhadap uang & harta, atau menuhankan Uang dan menganggap Uang adalah Maha di atas segalanya. dan merasa pantas melakukan cara apapun untuk memperoleh uang, cara-cara tersebut sedemikian sakralnya sehingga dapat disamakan dengan Agama bagi para penganutnya.

Sahabat..
Uang Tidak menentukan segalanya, tetapi tanpa uang segalanya menjadi tidak menentu.
Ada ungkapan bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan. Bagi saya pribadi, Tidak punya Uang adalah akar dari segala kejahatan.

Diantara penyebab tingginya tingkat kejahatan, seperti pencurian, perampokan, penipuan dan berbagai perbuatan kriminal yang merugikan masyarakat disebabkan karena tingginya tingkat pengangguran yang juga juga berujung pada tingginya tingkat kemiskinan. Kemiskinan yang tanpa disertai ketabahan dan kesabaran apalagi tanpa didasari oleh nilai-nilai keimanan dan moral yang baik, maka akan memunculkan orang-orang yang memilih jalan pintas dan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.

Sebagaimana keterangan hadits dalam kitab Faydhul Qodiir, juz 4, hlm. 708 sebagai berikut:

كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا، وَكَادَ الْحَسَدُ أَنْ يَكُوْنَ سَبَقَ الْقَدَرَ . (فيض القدير، ج 4، ص 708)

Rasulullah SAW bersabda: Kemiskinan itu dekat dengan kekufuran, dan kedengkian itu dekat dengan mendahului qodar”. (Faydhul Qodiir, juz 4, hlm. 708)

Sahabat, walau sedemikian pentingnya nilai uang bagi kehidupan kita. Jangan sampai membuat kita gelap mata dan rela melakukan segalanya demi uang, sehingga melanggar norma-norma dan aturan masyarakat serta agama. Uang hanyalah sarana untuk mencapai tujuan, dan bukan merupakan tujuan itu sendiri. Sedangkan tujuan yang baik hendaklah dicapai dengan cara yang baik pula. Uang sifatnya netral, seperti halnya pisau, air, api dll. Manusialah yang memberi makna kebaikan atau kejahatan. Manusialah yang mewarnai aura energi uang, energi positif ataukah energi negatif..

Pengusaha yang memiliki mental tangguh akan melihat uang bukanlah segalanya. Uang hanya bagian dari sebuah variabel atau proses aktivitas usaha. Sebagaimana nasehat berikut ini…

Nasehat Andrew Carnegie
Pada tahun 1901, dalam usia 66 tahun, ketika Andrew Carnegie berada pada puncak kariernya, ia malah menarik diri dari dunia bisnis, Dia berkata :

“Saya tidak membutuhkan lebih dari 50.000 dolar AS setiap tahun. Bila saya memperoleh keuntungan lebih dari itu, saya akan menggunakan kelebihannya untuk sesuatu yang mulia! Saya akan berhenti bekerja, kecuali demi kebaikan orang lain….(demi) pendidikan dan pengentasan kemiskinan.

Manusia selalu membutuhkan berhala untuk dipuja, dan harta adalah berhala yang paling menjijikkan! Tak ada berhala yang lebih merendahkan martabat manusia kecuali pemujaan terhadap uang! Maka saya mesti berhati-hati dalam memilih hidup yang bermutu, yang meningkatkan martabat manusia.

Dengan secara terus menerus menekuni bidang usaha dan memikirkan cara untuk meraih keuntungan yang besar dalam waktu singkat, saya akan merendahkan derajat dan martabat saya sedemikian rupa hingga tidak ada lagi kemungkinan untuk mengangkatnya kembali.”

[Dikutip dari Buku Total Sukses Karya Anand Krishna hal. 48-49]

Uang Vs Kebahagiaan
by. Haidar Bagir

Belakangan ini, kita merasakan betapa hidup kita didominasi oleh uang dan harta-benda. Betapa nafsu materialistik mendorong kita untuk terus mengejar benda-benda, dengan harus membayar mahal dalam bentuk hilangnya kesadaran kemanusiaan kita, kaburnya pemahaman tentang tujuan hidup dan penciptaan kita, serta kacaunya perspektif kita mengenai cara-cara meraih kebahagiaan hidup kita.

Akibatnya, banyak di antara kita -manusia-manusia modern, khususnya yang tinggal di kota-kota besar- tidak lagi hidup sebagai manusia, tetapi lebih tepat disebut sebagai “zombie”. Zombie adalah manusia yang sebetulnya sudah mati, tapi dapat bergerak ke segala penjuru, namun tanpa kesadaran. Kita jungkir-balik mengejar uang, untuk membeli benda-benda, bergegas pergi ke sana ke mari, lupa waktu, lupa keluarga dan manusia lainnya, akibat kehilangan perspektif tentang tujuan kita mengejarnya. Padahal, kita tahu, esensi kemanusiaan sejatinya tidak terletak pada gerakan fisik, tetapi ada pada ruh kita, pada kesadaran kita. Kesadaran bahwa kita diciptakan Allah Swt di muka bumi ini bukan sia-sia, melainkan untuk tujuan yang serius; beribadah kepada-Nya sebaik mungkin. Yakni, menjalin silaturrahim –hubungan penuh kasih-sayang-, beramal saleh kepada orang lain sebanyak-banyaknya, dan menjadikan kehidupan di lingkungan sekitar lebih baik.

Sayangnya yang terjadi adalah sebaiknya. Lewat berbagai media yang menembus seluruh sudut kehidupan kita, kita diiming-imingi dengan kebutuhan-kebutuhan artifisial. Yakni ”kebutuhan” yang sebenarnya tak memiliki fungsi untuk menjadikan hidup kita lebih berbahagia. Dahulu, sebelum datang dan berkuasanya modernisme dan era industri, orang bekerja untuk tujuan yang jelas; meraih kesejahteraan. Dalam konteks ini, benda dan uang dipahami sebagai sarana, bukan tujuan itu sendiri. Dengan cara itu, sesungguhnya, pada masa-masa terdahulu manusia lebih hidup ‘sebagai manusia’. Meski ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang luar biasa pesat di masa-masa sekarang ini, manusia masa lampau tampak lebih terampil dalam mengatur hidupnya, menjaga perspektifnya dalam bekerja dan berusaha. Dengan kata lain, mereka lebih terampil dalam berupaya mencapai kebahagiaan ketimbang manusia-manusia sekarang. Sekarang, banyak di antara kita yang justru mengorbankan kebahagiaan demi mengejar uang. Tidak jelas lagi perbedaan antara ‘tujuan’ dan ‘sarana’ hidup. Sebagai bukti, tak jarang kita melihat seseorang justru mengalami kehampaan makna hidup setelah mendapatkan uang yang dikejarnya. Ternyata uang yang berlimpah tidak memberikan kebahagiaan dan makna hidup.

Nah, pertanyaannya sekarang, bagaimana memaknai uang dengan tepat?

Pertama, Agama tidak anti kepada orang yang mencari uang, tidak anti pula pada upaya-upaya mencari karunia Allah Swt. Bahkan dalam Al-Quran disebutkan, “Carilah kebahagiaan hidup di akhirat itu dengan apa-apa yang dikaruniakan Tuhan kepadamu dan jangan lupakan porsimu dari kehidupan dunia.” (QS. Al-Qashash: 77). Yang penting, kita senantiasa dapat memelihara agar tetap memiliki perspektif yang benar sehubungan dengan kepemilikan uang atau harta. Bahwa uang, sekali lagi, adalah sarana, bukan tujuan hidup itu sendiri. Dengan perspektif yang lurus seperti ini, tak ada orang yang mau mengorbankan kebahagiaannya, tujuan hidupnya, demi mengejar uang. Uang harus dijadikan pelayan bagi upaya mendapatkan kebahagiaan hidup.

Kedua, Kita juga perlu meluruskan prioritas, bahwa tugas hidup adalah beribadah kepada-Nya, dengan jalan menebarkan rahmat bagi alam semesta. Bahkan, sesungguhnya kebahagiaan kita terletak di sini. Manusia telah diciptakan Allah dengan fitrah mencinta. Kebahagiaan dan kepuasan hidup tak akan pernah bisa diraihnya jika ia tidak mencinta dan mengungkapkan fitrah kecintaannya itu dengan berbuat baik pada orang lain. Uang atau harta benda yang kita miliki hanyalah sarana pendukung untuk kita menyelenggarakan upaya-upaya seperti ini.

Ketiga, Kita perlu membangun dan memelihara kesadaran bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat tidak terletak pada banyaknya uang dan harta benda, melainkan pada bagaimana kita memandang fungsi dan cara menggunakannya. Yaitu dengan mensyukuri, memanfaatkan untuk hal-hal yang halal dan baik, menghindarkan diri dari gaya hidup berlebihan, serta menggunakan kelebihan rizki yang kita miliki untuk berbuat baik kepada orang lain. Hanya dengan itu kita akan mendapat kebahagiaan, termasuk kebahagiaan di dunia ini, dan pada saat kita dibangkitkan kelak.

Jangan sampai, seperti kisah Pedang Damocles dalam mitologi Yunani, bukannya bermanfaat untuk membunuh musuh dalam peperangan, ia bergerak sendiri dan menusuk pemiliknya. Jangan sampai uang, yang seharusnya membantu kita dalam mendapatkan kebahagiaan, malah menjadikan kita egois, berbangga hati sambil melecehkan orang lain, merusak kedamaian keluarga, memutuskan silaturrahim, dan berbagai ekses merusak lainnya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: